Saya teringat ketika saya duduk di Sekolah Dasar tahun 70-an, saat itu kelas dua kalau tidak salah. Suatu saat Bapak guru yang budiman menyuruh setiap muridnya membawa seratus buah lidi yang panjangnya 10 cm. Kemudian kami mempersiapkannya dari rumah, tak pelak lagi Ibu di rumah ikut sibuk membantu mencarikan sapu lidi.Kenangan itu terasa indah, apalagi paginya Pak guru yang budiman memberitahukan bahwa lidi itu bisa di pakai sebagai alat bantu hitung: tambahan, pengurangan dan perkalian. Pelajaran Matematikapun di lalui dengan secara gembira dan penuh antusias oleh semua murid, sehingga waktu pun tak terasa. Itulah kenangan yang mengasyikan belajar Matematika saat itu.
Apakah murid-murid sekarang mempunya kenangan yang serupa?
Ya pada dasarnya anak belajar dari hal-hal yang kongkrit, sehingga untuk mengetahui konsep-konsep yang abstrak anak memerlukan benda-benda yang riil sebagai perantara atau visualisasinya. konsep abstarak itu dicapai melalui tingkat-tingkat belajar yang berbeda-beda. Bahkan orang dewasapun yang pada umumnya telah mengetahui konsep-konsep abstrak, dalam keadaan tertentu sering memerlukan konsep visualisasi.
Dalam proses belajar mengajar ada hal yang penting bagi seorang guru yaitu meningkatkan motivasi anak didiknya. Salah satu cara dalam meningkatkan motivasi belajar adalah mengunakan alat peraga tadi. Sehingga diharapkan konsep abstrak yang baru di fahami murid akan mengendap, melekat dan tahan lama, tidak hanya sekedar lewat begitu saja.
Related posts:

Buku tamu
saya juga ingat bawa2 lidi ke sekolah untuk belajar berhitung. itu kelas 1 sd. bawa sempoa, yg sampai sekarang saya g ngerti makenya gimana. bawa macam2 alat kesenian, yg hingga saat ini satupun saya kurang mengerti pakainya. tapi itu kenangan tersendiri, kenangan yang takkan pernah terlupakan
.-= wahyurez´s last blog ..Menulis, Bermanfaatkah? =-.
Betul sekali Mas Wahyu, guru di harapkan kreatif menggali potensi yg ada di sekelilingnya, untuk membantu siswa.
[...] This post was mentioned on Twitter by hersamin. hersamin said: Masih perlukah alat peraga…? http://goo.gl/fb/IvX7P [...]
Alat peraga tetap menjadi mendia efektif dalam rangka memperkuat konsep anak tentang materi yang dipelajari. Kecuali ada alternatif lain..
Salam Kenal.
.-= Mahesa Pandu´s last blog ..Hadapi Hidup apa adanya =-.
Saya setuju sekali Mas Pandu, alat peraga masih perlu dan harus di gunakan apalagi pada materi2 yang susah di jangkau anak secara riil. salam kenal juga.
hehehe, saya jadi ingat ketika kami waktu SD dulu diminta membawa bensin dan spiritus ke sekolah oleh guru kami. Saya sampai disadapkan bendin dari tangki motor ayah. Di sekolah ternyata cuma untuk demonstrasi penguapan saja hehehehe
Salam bentoelisan
Mas Ben
Alat peraga bisa mengakrabkan guru dan siswa.
Sebaliknya media modern basis ICT justru makin menjauhkan ikatan batin antara guru dan siswa.
Salam buat Mas Aminhers
Maksih Pak Dhe atas kunjungannya. Memang ada kelemahan dan kelebihannya. Yang penting guru jangan sampai tidak memakai ke dua model alat peraga tersebut. Walaupun masih ada kekurangan, bisa di tolerir dengan pendekatan yang “mungkin dilakukan” guru terhadap siswa.
Menjadikan pembelajaran lebih menyenangkan dan efektif, alat bantu atau media tampaknya menjadi sebuah keharusan dalam proses pembelajaran.
Alat bantu sederhana buatan sendiri (memanfaatkan barang bekas, atau sumber apa pun yang tersedia di lingkungan) mungkin bisa dijadikan pilihan.
.-= AKHMAD SUDRAJAT´s last blog ..Tips Sukses Menjadi Guru ala Gisele Glosser =-.
Betul sekali Kang Ajat, guru harus bisa mensiasati bagaimana caranya bisa menyuguhkan materi dengan jelas dan gamblang, dan batuan alat peragalah jawabannya.
Saya setuju sekali bahwa penggunaan alat peraga masih sangat diperlukan dalam upaya menanamkan konsep dan memberi penguatan apalagi dalam mata pelajaran matematika. Lebih efektif lagi apabila pembuatan alat peraga melibatkan siswa dengan memanfaatkan barang bekas misalnya seperti kataPak Akhmad Sudrajat. Saya sudah mencoba cara itu dan saya sangat senang melihat ekspresi siswa yang begitu bangga hasil karyanya dipuji sekaligus menyadari bahwa dengan karya yang dibuatnya sendiri itu dia makin enjoy dan sukses belajar matematika.Dan jangan lupa dengan cara ini pula kita bisa mengintegrasikan pendidikan tentang lingkungan hidup dalam setiap mata pelajaran. Ibarat pepatah mengatakan “sekali merengkuh dayung 2,3 pulau” terlampaui atau yang lebih populer “sambil menyelam minum susu” he..he…makasih mas….
saya amat sangat setuju……..!!!! bila dalam proses pembelajaran tu menggunakan alat peraga, meskipun sekarang uda modren tapi tetap ja anak-anak sekarang lebih ngerti kalau materi yang mereka pelajari itu butuh di peragakan agar semakin di mengerti…….!!!!!!!!!!
Yup saya setuju sekali, dan alhamdulillah sekolah saya baru saja mendapat banyak bantuan untuk beberapa alat peraga pendidikan. ^_^