Pernahkah Anda membaca kesan seseorang yang begitu tulus mengagumi dan merasa berhutang budi terhadap gurunya, serta mencintai sekolahnya di masa kecil, seperti diekspresikan Totto-chan di atas ? Mustahil! Apalagi di Indonesia, dimana sistem pendidikan yang ada justru “membonsai” anak-anak yang kaya imajinasi dan serba ingin tahu seperti Totto-chan–yang dengan gampang dicap “biang kerok di sekolah dan punya kelainan”.
Tentu ada juga murid atau mahasiswa di Indonesia yang membanggakan almamaternya. Tapi bisa dipastikan, apa yang mereka banggakan cuma hal-hal bersifat fisik dan kapitalistik; misalnya fasilitas serba wah yang dimiliki sekolah/kampusnya, status sebagai sekolah/perguruan tinggi unggulan; sekolah/kampusnya juara basket nasional, dan karena banyak anak orang kaya serta artis tenar di sekolah/kampusnya.
Semua itu tidak ada artinya dibanding Tomoe Gakuen yang dibanggakan Totto-chan, yang telah menyelamatkan dirinya dari ‘pembantaian” secara sistemik oleh sekolah konvensional. Didirikan oleh guru yang sungguh idealis, Sosaku Kobayashi, keunikan sekolah itu sudah tampak dan terasa sejak di pintu gerbang—berupa dua batang pohon, lengkap dengan ranting dan daun-daunnya. Sebuah pesan yang sangat jelas dan konkret bahwa proses pendidikan harus intim dengan alam.
Tomoe Gakuen didirikan oleh Kobayashi di Tokyo pada 1937, beberapa saat setelah ahli pendidikan yang sangat mencintai anak-anak ini pulang dari menimba ilmu di Eropa. Jelas, ini adalah sebuah sekolah eksperimen. Sebenarnya, pada waktu itu Jepang sudah menganut sistem pendidikan yang seragam secara nasional, tapi Tomoe Gakuen bisa tumbuh di luar sistem karena dijalankan secara sembunyi-sembunyi, dan lantaran Kobayashi sendiri adalah tokoh yang sangat dihormati di Departemen Pendidikan.
Kalau dikatakan bahwa Tomoe Gakuen adalah “sekolah buangan”, mungkin Anda yang telah membaca Laskar Pelangi akan segera teringat pada perjuangan anak-anak miskin di Belitung untuk bersekolah, yang dikisahkan dengan sangat mengharukan dalam novel karya Andrea Hirata itu. Tapi ada perbedaannya yang sangat mencolok, dimana problem utama Totto-chan dan para murid Tomoe Gakuen bukanlah kemiskinan, melainkan penolakan oleh sistem pendidikan konvensional yang mencap mereka sebagai “anak bandel, tidak bisa diatur, menyimpang dan biang kerok di sekolah.”
Tapi sebenarnya, keistimewaan Tomoe Gakuen bukan sekadar lantaran sekolah itu bersedia menampung anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah lain, termasuk Totto-chan. Bukan pula karena ruang kelasnya yang lain dari pada yang lain, yaitu bekas gerbong kereta api, melainkan sistem pendidikannya yang berbasis kepribadian.
* * *
TOTTO-chan sebenarnya bukan anak yang nakal. Malah sebaliknya, dia anak kecil dengan perasaan yang sangat halus. Ketika anjing gembala Jerman yang sangat disayanginya, Rocky, menggigit telinganya sampai nyaris putus—saat mereka bermain”serigala” di kamarnya, yang dicemaskan Totto-chan bukan telinganya tapi kemungkinan Rocky diusir oleh Mama dan Papa.
“Jangan marahi Rocky! Jangan marahi Rocky,”jerit Totto-chan sambil mendekap anjing kesayangannya itu, ketika Mama datang ke kamar karena terkejut mendengar jeritan anaknya.Roknya bersimbah darah dan telinganya yang menggantung terlihat sangat mengerikan. Rocky meringkuk di sudut kamar dengan ekor terkulai di sela kakinya, menatap sedih ke arah Totto-chan yang terus memeluknya.
Totto-chan memang sering melakukan perbuatan yang aneh, menjengkelkan dan mencemaskan bagi orang dewasa. Dia suka mengikuti imajinasinya dan bertindak impulsif karena dorongan keingintahuannya.
Anak perempuan kecil itu pernah terkubur semalaman dalam adukan semen. Celana dalamnya selalu sobek setiap pulang sekolah—karena kesenangannya menyuruk di bawah kawat duri dengan gerakan maju-mundur. Dan dia pernah menguras seluruh isi septic tank (bak pembuangan WC) di sekolah, cuma untuk mencari dompet cantiknya yang terjatuh ke tempat gelap yang sangat jorok dan bau itu. (Bersambung)
Oleh : Robert Manurung
Related posts:

Buku tamu
kisah Toto-chan seharusnya menjadi cerminan bagi guru-guru di indonesia dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi muridnya, Tomoe Gakuen adalah cerminan sekolah yang disukai dan selalu dikenang oleh muridnya, dan sosaku kobayashi adalah cerminan bagi kepala sekolah yang tidak takut “bersebrangan” dengan kebijakan pemerintah. SEMOGA pendidikan di Indonesia akan mencerdaskan bukan MEMBONSAI generasi penerus BANGSA
jk recently posted..Soal Olimpiade Matematika 4
Peubahan dan Peraturan terbaru dari PP No 66 Tahun 2010…
I found your entry interesting thus I’ve added a Trackback to it on my weblog
…