Totto-Chan, Sekolah Berbasis Kepribadian (2)

Share on Facebook

KUBOYASHI menarik kursi ke dekat Totto-chan lalu duduk berhadapan dengan gadis cilik itu. Ketika mereka sudah nyaman, dia berkata,”Sekarang, ceritakan semua tentang dirimu. Ceritakan semua dan apa saja yang ingin kau katakan.”

“Apa saja yang aku suka?” Totto-chan mengira Kepala Sekolah akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawabnya. Ketika dia berkata Totto-chan boleh menceritakan apa saja yang ingin diceritakannya, Totto-chan senang sekali dan langsung berbicara penuh semangat. Ceritanya kacau dan urutannya tidak karuan, tapi semua dikatakannya apa adanya.

Dia bercerita kepada Kuboyashi tentang betapa cepatnya kereta yang mereka tumpangi; tentang bagaimana dia minta diperbolehkan menyimpan satu karcis kereta kepada petugas pengumpul karcis, tapi tidak diizinkan; tentang sarang burung walet; tentang Rocky, anjingnya yang berbulu cokelat dan bisa melakukan berbagai keterampilan; tentang bagaimana dia suka memasukkan gunting ke dalam mulutnya waktu di TK dan gurunya melarangnya karena lidahnya bisa tergunting, tapi dia tetap saja melakukannya; tentang bagaimana dia membersit hidung karena Mama memarahinya kalau hidungnya beringus; tentang Papa yang sangat pintar berenang dan menyelam.

Totto-chan sempat terhenti beberapa kali karena kehabisan cerita, tapi dia berusaha terus untuk cerita apa saja. Terakhir dia bercerita mengenai baju-bajunya yang selalu robek, karena dia senang merayap di bawah kawat duri. “Mama tidak suka kerah ini,”kata Totto-chan, sambil menunjukkan kerah bajunya kepada Kepala Sekolah.

Setelah itu, Totto-chan benar-benar kehabisan cerita. Dia berpikir keras, tapi tak bisa menemukan bahan cerita lain. Hal ini membuatnya merasa agak sedih. Untungnya, tepat ketika itu Kepala Sekolah Kuboyashi berdiri, lalu meletakkan tangannya yang besar dan hangat di kepala Totto-chan sambil berkata,”Nah, sekarang kau murid sekolah ini.”

Totto-chan merasa dia telah bertemu dengan orang yang benar-benar disukainya. Belum pernah ada orang yang mau mendengarkan dia sampai berlangsung empat jam seperti Kepala Sekolah. Lebih dari itu, Kuboyashi sama sekali tidak menguap atau tampak bosan. Dia selalu tertarik pada apa yang diceritakan Totto-chan, sama seperti Totto-chan sendiri.

Tidak pernah sebelum atau sejak saat itu ada orang dewasa yang mau mendengarkan Totto-chan bercerita selama empat jam. Tentu saja ketika itu dia tidak tahu bahwa dia dikeluarkan dari sekolah karena gurunya sudah kehabisan akal menghadapinya. Wataknya yang periang dan terkadang suka melamun, membuat Totto-chan berpenampilan polos. Tapi, jauh di dalam hatinya, dia merasa dirinya dianggap aneh dan berbeda dari anak-anak lain. Kuboyashi telah membuatnya merasa aman, hangat dan senang.

* * *

BIASANYA Mama kesulitan membangunkan Totto-chan di pagi hari. Tapi hari itu, dia sudah bangun sebelum yang lain terjaga, sudah rapi berpakaian, dan menunggu dengan tas sekolah tersandang di bahunya.

Mata Mama berkaca-kaca ketika memandang Totto-chan pergi. Rasanya sulit untuk mempercayai bahwa gadis cilik yang santun, yang dengan riang serta penuh semangat berangkat ke sekolah itu, adalah anak yang kemarin dikeluarkan dari sekolah dengan cap “pembuat onar”.

Itulah hari pertama Totto-chan bersekolah di Tomoe Gakuen, hari paling menggairahkan dalam hidupnya, yang kemudian disadarinya telah menyelamatkan hidupnya secara permanen. Totto-chan sangat senang dan amat menyukai sekolah yang “aneh” itu, yang ruang kelasnya dari bekas gerbong kereta api; sampai-sampai dia berjanji akan datang ke sekolah setiap hari dan takkan pernah libur.

* * *

BERSEKOLAH di gerbong kereta sudah cukup aneh, tapi ternyata pengaturan tempat duduk di sekolah itu lebih aneh lagi. Di sekolah lain setiap anak diberi satu bangku tetap. Tapi di sini mereka boleh duduk sesuka hati, di mana saja, kapan saja.

Yang paling aneh dari sekolah itu adalah pelajarannya. Di sekolah-sekolah lain, biasanya setiap jam pelajaran diisi dengan satu mata pelajaran tertentu, misalnya bahasa Jepang untuk jam pelajaran pertama. Semua murid fokus pada mata pelajaran tersebut. Tapi di Tomoe Gakuen sangat berbeda. Di awal jam pelajaran pertama, guru membuat daftar semua soal dan pertanyaan mengenai hal-hal yang akan diajarkan hari itu. Kemudian guru berkata,”Sekarang, mulailah dengan salah satu dari ini. Pilih yang kalian suka.”

Jadi tidak masalah apakah kita mulai dengan belajar bahasa Jepang atau berhitung atau yang lain. Murid yang suka mengarang langsung menulis sesuatu, sementara di belakangnya, anak yang suka fisika merebus sesuatu dalam tabung perobaan di atas api berbahan bakar spritus. Letupan-letupan kecil biasa terdengar di kelas-kelas itu, kapan saja.

Metode pengajaran ini membuat para guru bisa mengamati—sejalan dengan waktu ketika anak-anak melanjutkan ke kelas yang lebih tinggi—bidang apa yang diminati anak-anak, termasuk cara berpikir dan karakter mereka. Ini ara ideal bagi para guru untuk benar-benar mengenal murid-murid mereka.

Bagi murid, memulai hari dengan mempelajari sesuatu yang paling mereka sukai sungguh sangat menyenangkan. Jadi belajar di sekolah ini pada umumnya bebas dan mandiri. Murid bebas berkonsultasi dengan guru kapan saja dia merasa perlu. Guru akan mendatangi murid jika diminta dan menjelaskan setiap hal sampai anak itu benar-benar mengerti. Kemudian mereka diberi latihan-latihan untuk dikerjakan sendiri. Itulah belajar dalam arti yang sebenar-benarnya, dan itu berarti tak ada murid yang duduk menganggur dengan sikap tak peduli sementara guru sedang menjelaskan sesuatu.

Murid-murid kelas satu belum sampai ke tahap belajar secara mandiri penuh, tapi mereka sudah diizinkan untuk mulai dengan mempelajari materi yang paling mereka minati. Ada yang menyalin huruf-huruf alfabet, ada yang menggambar; membaca buku, bahkan ada yang bersenam.

“Keanehan” Tomoe tidak berhenti sampai di situ. Kuboyashi telah merancang sejumlah kegiatan belajar yang inkonvensional untuk mendekatkan murid-muridnya dengan alam, memotivasi murid-murid yang lemah agar bangkit rasa percaya dirinya dan membangun kebersamaan di antara murid-muridnya. Ada acara berkemah di sekolah; pelajaran berenang yang membebaskan para murid untuk telanjang; kegiatan belajar di alam bebas; mengundang petani untuk menjelaskan cara bercocok-tanam; melengkapi menu makanan dengan ikan, ada lomba keberanian yang membuat para murid tidak takut lagi pada hantu, dll.

Oleh : Robert manurung

Related posts:

  1. Totto-Chan, Pendidikan Berbasis Kepribadian (1)
  2. Ada plagiarisme internet di sekolah?
  3. Bungsu : Jujur salah,curangpun salah !
  4. Masih perlukah alat peraga…?
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.